Selasa, 17 April 2018

Kemenperin Bangkitkan Kembali Kejayaan Sentra IKM Logam Bugangan


Kementerian Perindustrian tengah berupaya membangkitkan kembali kejayaan sentra industri kecil dan menengah (IKM) penghasil produk logam di Semarang, Jawa Tengah khususnya yang berlokasi di Kelurahan Bugangan. Sejak tahun 1970-an, pusat pengrajin logam di kota Semarang itu memberikan kontribusi signfikan pada kemajuan IKM logam dalam negeri dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Di sentra logam Bugangan ini terdapat 56 IKM yang memproduksi mesin pengolahan pangan dan peralatan rumah tangga, bahkan sudah ada yang mampu membuat mesin cuci dan ekskavator mini,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih ketika melakukan kunjungan kerja di Sentra IKM logam Bugangan, Semarang, Jawa tengah, beberapa waktu lalu.


Pada kesempatan tersebut, Dirjen IKM juga menyempatkan berdialog dengan 120 pengrajin logam yang berasal dari Bugangan serta wilayah lainnya di Jawa Tengah. “Sentra IKM logam di seluruh Indonesia, sebanyak 390-an, dengan total penyerapan tenaga kerja lebih dari 13.000 pengrajin,” ungkap Gati.

Sedangkan, saat ini di Jawa Tengah terdapat sekitar 20 sentra IKM logam yang tersebar di beberapa wilayah seperti Klaten, Ceper, Boyolali, Purbalingga, Pati, Tegal dan Kudus. Produk-produk unggulan dari mereka sudah ada yang dipasok untuk memenuhi kebutuhan komponen bagi perusahaan manufaktur besar di Indonesia, seperti sektor industri otomotif.

“Dahulu, Bugangan terkenalnya disebut sebagai daerah industri kalengan,” ucap Gati. Pasalnya di sentra tersebut, menghasikan produk ember seng, kompor minyak, panci, dandang, oven, bahkan gerobak sampah. Seiring perkembangan zaman, pengrajin ada yang berinovasi membuat mesin cuci berukuran besar. “Harga mesin cucinya lebih murah dari produksi industri besar, juga hemat listrik,” imbuhnya.

CV. Mutiara Cemerlang, IKM logam Bugangan milik Muchamad Nashirin yang menghasilkan mesin cuci ini mampu meraih omzet penjualan sampai Rp200 juta per bulan dengan jumlah tenaga kerja sembilan orang. Mereka memenuhi pesanan sebanyak 817 pelanggannya yang berasal dari seluruh Indonesia.

Selain itu, Alberindo atau Alat Berat Indonesia, IKM logam milik Kasmin Riyadi yang telah berdiri sejak tahun 2016 ini berhasil menciptakan ekskavator mini. Dengan mempekerjakan lima orang karyawan, Kasmin membuat alat berat yang memiliki bobot sebesar 500 kilogram itu bisa diselesaikannya dalam waktu satu sampai dua bulan.

Dalam memenuhi komponen bahan baku utama seperti motor hidrolik dan perangkat kabel, Kasmin mendapatkannya dari Polandia dan Italia, sedangkan besi kerangkanya asli Indonesia. Satu unitekskavator mini atau bertipe PC 70 ini dibanderol dengan harga Rp250 juta. Jika dibandingkan dengan produk impor sejenis, ekskavator yang dinamai Kasmino ini harganya lebih murah lima puluh persen.

Industri Patin Indonesia Rebut Pasar Global


Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional telah mengamanatkan kepada 25 Kementerian dan Lembaga terkait untuk melakukan langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam mendukung upaya percepatan pembangunan industri perikanan nasional. Salah satu langkah yang diamanatkan dalam Instruksi Presiden tersebut yaitu  peningkatan produksi perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan hasil perikanan.

PATIN adalah salah satu komoditas andalan Indonesia sebagai komoditas industri, karena memiliki kemapanan dari segi benih, pembesaran, pakan, dan pengolahannya serta luasnya wilayah produksi budidaya di sentra-sentra budidaya meliputi Jambi, Palembang, Riau, Lampung, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.   Peluang industri patin untuk  konsumsi lokal sangat terbuka luas dengan adanya kebijakan larangan impor patin oleh KKP. Selain itu, tingginya syarat keamanan pangan yang akan dietatapkan KKP melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi peluang bagi patin lokal untuk menguasai pasar.



Kesempatan patin lokal untuk menguasai pasar internasional telah terbuka luas. Kebutuhan patin di mancanegara menunjukkan trend positif, seperti di Tiongkok. Impor patin di negeri tirai bambu tersebut tumbuh pesat hingga mencapai 34.400 ton per tahun. Angka tersebut disusul oleh Thailand yang mencapai 19.200 ton per tahunnya. Di Amerika Latin, impor ikan patin juga menunjukkan kenaikan hingga 12,3 persen. Meningkatnya kebutuhan patin di beberapa negara tersebut, merupakan kesadaran masyarakat dalam memenuhi gizi dan protein. Ini juga dapat dijadikan peluang bagi Indonesia, untuk menduniakan patin lokal. 

Pasca penerapan kebijakan proteksi impor patin, geliat industri patin Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun 2016  produksi patin nasional sebesar 437.111 ton. Meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yaitu 339.069 ton. Pada tahun 2018, KKP menargetkan produksi patin sebesar 604.587 ton. Pada permintaan pasar domestik, angka konsumsi ikan patin per kapita cenderung meningkat tiap tahunnya yakni mencapai 21,9 % terhitung dari tahun 2014 hingga 2017 dengan preferensi produk yang dikonsumsi ikan segar sebanyak 76%, ikan asing diawetkan 15%. 

Sentra produksi patin di Indonesia telah tersedia. Dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan pemantauan dan mendorong produksi patin nasional. Wilayah Sumatera menyumbang 68,07 persen dari produksi nasional, dengan rincian wilayah Sumatera Selatan penyumbang terbesar yakni mencapai 47,23 persen. Hal ini tentunya menunjukkan trend positif seiring dengan permintaan pasar domestik dan internasional. 

Dalam mendorong produksi patin lokal dan mengenalkan kepada masyarakat luas, terutama pelaku usaha perikanan, KKP menggelar Marine Business Forum yang bertajuk Industri “Patin : Peluang dan Tantangan” pada Rabu, 11 April 2018. Untuk menggulirkan usaha Patin menjadi sebuah industri yg stabil, pasti dan berkesinambungan maka diperlukan sebuah kepastian rantai pasar dan pasokan. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melakukan sejumlah upaya untuk menggerakkan industri patin dari hulu ke hilir, meliputi bantuan benih, program pakan mandiri, penyediaan induk patin unggul nasional yaitu patin jambal dan patin pasupati (Patin Super Harapan Pertiwi) yang telah dirilis dengan Kepmen KP No.25/2006, penyusunan SNI Fillet Patin, serta kerjasama dengan SMART-Fish Indonesia Programe yang didukung oleh SECO-UNIDO membangun mobile app untuk perluasan informasi tentang budidaya patin yang baik yang dapat memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan, serta merumuskan branding patin. 

Aplikasi tersebut adalah hasil kerjasama antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang didanai oleh Pemerintah Swiss (SECO). Aplikasi ini dibuat untuk membantu pembudidaya patin dan rumput laut dalam meningkatkan produksi dan mutu, sehingga hasil panen yang diperoleh lebih menguntungkan.  Tak hanya itu, Pemerintah juga memfasilitasi pembiayaan berupa dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam usaha komoditas patin. Dalam acara tersebut, juga dilakukan penyerahan bantuan berupa kredit Bank Jatim kepada Pembudidaya Patin, kredit Dagulir Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bekerja sama dengan Bank Jatim kepada 22 debitur dari 14 kelompok pembudidaya ikan patin di Kabuoaten Tulungagung, Jawa Timur, sebesar Rp 7 miliar. 

Kamis, 12 April 2018

Making Indonesia 4.0: Strategi RI Masuki Revolusi Industri Ke-4




Kementerian Perindustrian telah merancang Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era Industri 4.0. Guna mencapai sasaran tersebut, langkah kolaboratif ini perlu melibatkan beberapa pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga unsur akademisi.

“Sejak tahun 2011, kita telah memasuki Industri 4.0, yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto padaacara Sosialisasi Roadmap Implementasi Industri 4.0 di Jakarta, Selasa (20/3).

Menperin menjelaskan, revolusi industri generasi pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untukmenggantikan tenaga manusia dan hewan. Kemudian, generasi kedua, melalui penerapan konsepproduksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Dan, generasi ketiga, ditandai denganpenggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri.

“Padarevolusi industri keempat, menjadi lompatan besar bagi sektor industri, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik,” paparnya.

Untuk itu, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era Industri 4.0. Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Berdasarkan Global Competitiveness Report 2017, posisi daya saing Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 100 negara.  “Walaupun telah naik sebesar 5 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi perlu terus dilakukan perubahan secara sistematis dan strategi yang jelas untuk berkompetisi,” ujar Airlangga.

Menperin juga menyampaikan, semua negara masih mempelajari implementasi sistem Industri 4.0, sehingga dengan penyiapan peta jalannya, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci di Asia. “Kitamelihat banyak negara, baik yang maju maupun berkembang, telah menyerap pergerakan ini keagenda nasional mereka dalam rangka merevolusi strategi industrinya agar semakinberdaya saing global. Dan, Indonesia siap untuk mengimplementasikan,” tegasnya.

Implementasi Industri 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam merombak aspek industri, bahkan juga mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia. “Kita punya pasar dalam negeri yang kuat, dan punya banyak talenta dari jumlah universitas yang ada, sehingga tersedianya pool of talent,” kata Menperin.

Jadi, langkah dasar yang sudah diawali oleh Indonesia, yakni meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program link and matchantara pendidikaan dengan industri. Upaya ini dilaksanakan secara sinergi antara Kemenperin dengan kementerian dan lembaga terkait seperti Bappenas, Kementerian BUMN, Kementerian Ketenagakerjaan, Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Dengan menerapkan Industri 4.0, Airlangga menargetkan, aspirasi besar nasional dapat tercapai. Aspirasi tersebut secara garis besar, yaitu membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030, mengembalikan angka net export industri 10 persen, peningkatan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dibanding peningkatan biaya tenaga kerja, serta pengalokasiaan 2 persen dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen Kemenperin Haris Munandar mengungkapkan, salah satu strategi Indonesia memasuki Industri 4.0 adalah menyiapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan untuk memperkuat fundamental struktur industri Tanah Air.

Adapun kelima sektor tersebut, yaitu Industri Makanan dan Minuman, Industri Otomotif, Industri Elektronik, Industri Kimia, serta Industri Tekstil. “Melalui komitmen dan partisipasi aktif dari pemerintah, swasta dan publik melalui kemitraan yang tepat sasaran, kita semua yakin bahwa Industri 4.0 akan membawa manfaat bagi bangsa dan Negara,” terangnya.

Revitalisasi manufaktur

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara mengatakan, implementasi Industri 4.0 akan membawa peluang besar untuk merevitalisasi sektor manufaktur dan menjadi akselerator dalam mencapai visi Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030.

“Jadi, akan meningkatkan produktivitas industri kita dan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang lebih bernilai tambah tinggi sebagai dasar dari fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa datang,” tuturnya.



Ngakan menegaskan, penerapan Industri 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi tinggi. Untuk itu, dibutuhkan transformasi keterampilan bagi SDM industri di Indonesia yang mengarah kepada bidang teknologi informasi.

“Studi yang dilakukan terhadap industri yang ada di Jerman menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan hingga 96 persen, khususnya di bagian R&D dan pengembangan software,” ungkapnya

Ia menambahkan bawa terjadi shifting pekerjaan karena penerapan Industri 4.0. “Pekerjaan nanti tidak hanya di manufaktur saja, akan berkembang ke supply chain, logistik, R&D. Selain itu, yang di sektor manufaktur juga perlu rescaling atau up-scaling untuk memenuhi kebutuhan,” ujarnya.

Dengan penggunaan teknologi terkini dan berbasis internet, menurut Ngakan, muncul pula permintaan jenis pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti pengelola dan analis data digital, serta profesi yang dapat mengoperasikan teknologi robot untuk proses produksi di industri.

“Bahkan, ada beberapa potensi keuntungan yang dihasilkan sebagai dampak penerapan konsep Industri 4.0,” ujarnya. Keuntungan tersebut, antara lain mampu menciptakan efisiensi yang tinggi, mengurangi waktu dan biaya produksi, meminimalkan kesalahan kerja, dan peningkatan akurasi dan kualitas produk.



Agar menjamin keberlangsungan sistem Industri 4.0 berjalan secara optimal, Ngakan menyebutkan, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi oleh industri. Kebutuhan penunjang itu di antaranya adalah ketersediaan sumber daya listrik yang melimpah, murah, dan kontinyu, serta ketersediaan infrastruktur jaringan internet dengan bandwidth yang cukup besar dan jangkauan luas (wide coverage).

Selanjutnya, ketersediaan data center dengan kapasitas penyimpanan yang cukup banyak, aman dan terjangkau,ketersediaan infrastruktur logistik modern, dan kebijakan ketenagakerjaan yang mendukung kebutuhan industri sesuai dengan karakter Industri 4.0.

Tidak hanya industri skala besar, Kemenperin juga mendorong kepada industri kecil dan menengah (IKM) agar ikut menangkap peluang di era Industri 4.0. “Kemenperin telah meluncurkan program e-Smart IKM. Ini yang perlu dimanfaatkan oleh mereka untuk lebih meningkatkan akses pasarnya melalui internet marketing,” imbuhnya.





Dukung Industri 4.0 Pemerintah Siapkan Jaringan 5G di Kawasan Industri





Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, pemerintah akan meningkatkan jaringan internet 5G di kawasan industri dalam upaya mendukung implementasi Industri 4.0. Untuk mewujudkannya, Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kemenkominfo guna membahas regulasinya serta menggandeng PT Telkom selaku operator penyedia layanan internet untuk perencanaan teknisnya.

Menurut Airlangga, dalam upaya penerapan jaringan internet 5G di kawasan industri tersebut, saat ini masih dirancang peta wilayah pemasangannya. "Industri 4.0 membutuhkan kecepatan data hingga 5G. Kalau datanya pakai yang lemot, ketika mau lihat proses di pabrik dan yang tampil dimonitor akan ada time lag, waktu yang tidak cocok," ungkapnya.

Menperin menjelaskan, memasuki era digital saat ini harus diimbangi dengan kualitas jarigan internet yang cepat. Pemasangan jaringan internet 5G tersebut terkait dengan pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Pemerintah telah mendorong industri memasuki dunia digital. Ada lima sektor pengembangan industri manufaktur yang akan menjadi percontohan, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika,” paparnya.

Airlangga menambahkan, lima sektor itu merupakan industri andalan yang tengah diprioritaskan pengembangannya di hampir seluruh dunia. “Sekitar 84 persen ekonomi dunia disokong oleh sektor-sektor tersebut. Ini yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga tiga ribu kali,” ucapnya.

Bahkan, saat ini pengembangan IKM juga menjadi salah satu langkah strategis mewujudkan ekonomi inklusif, yang sifatnya sama dengan e-commerce platform. Dengan demikian, IKM dapat bersaing secara global. “Untuk itu, industri nasional membutuhkan konektivitas serta interaksi melalui teknologi,” tegas Airlangga.

Pengembangan sektor IKM dalam negeri telah lama berperan penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Kemenperin mencatat, jumlah unit usaha IKM di dalam negeri terus mengalami peningkatan setiap tahun. Misalnya, pada tahun 2013, sebanyak 3,43 juta IKM, naik menjadi 3,52 juta IKM pada tahun 2014. Kemudian, mampu mencapai 3,68 juta IKM di tahun 2015, dan bertambah lagi hingga 4,41 juta tahun 2016. Pada tahun 2017 jumlah IKM diperkirakan lebih dari 4,5 juta unit usaha.

Rencana penerapan jaringan internet 5G ini ditargetkan mulai terlaksana saat perhelatan Asian Games 2018 pada Agustus mendatang. "Waktu Asian Games akan kita buat prototype-nya," pungkasnya.



Rabu, 11 April 2018

Transaksi perbankan Berhadiah di Racing Weekend Banking






Dalam upaya menggencarkan penggunaan layanan mobile banking khususnya berbasis layanan SMS, Telkomsel menggelar program Racing Weekend Banking. Program yang ditujukan bagi pengguna layanan SMS banking tersebut menyediakan berbagai hadiah menarik, termasuk hadiah utama berupa paket wisata ke Eropa untuk 10 pemenang. Program ini berlaku untuk transaksi perbankan yang dilakukan lewat SMS dan menu akses *141# setiap hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional selama periode Februari – Desember 2018.

Vice President Mobile Banking and Digital Advertising Tekomsel Harris Wijaya mengatakan, “Racing Weekend Banking kami selenggarakan sebagai apresiasi bagi pengguna layanan SMS banking. Kami terus berupaya mendorong kemudahan transaksi perbankan melalui ponsel seiring gaya hidup mobile yang semakin nyata menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.”

Harris kemudian menambahkan bahwa program ini merupakan langkah Telkomsel dalam mengedukasi masyarakat untuk melakukan transaksi perbankan melalui ponsel. “Pada dasarnya kami menyediakan kemudahan dan kenyamanan bertransaksi bagi seluruh segmen pelanggan, termasuk pelanggan yang masih terbiasa menggunakan SMS. Program ini kami harapkan dapat mendorong semakin banyak masyarakat Indonesia yang percaya untuk menggunakan layanan mobile banking,” jelas Harris.

Di tahun 2018, tercatat sekitar 10 juta pelanggan Telkomsel di seluruh Indonesia telah aktif menggunakan layanan SMS banking. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, jumlah transaksi perbankan melalui SMS di jaringan Telkomsel meningkat 11%. Beberapa transaksi SMS banking yang paling sering dilakukan pelanggan Telkomsel adalah info saldo, transfer dana, dan notifikasi mutasi rekening. 

“SMS masih menjadi platform yang dipercaya pelanggan untuk melakukan transaksi perbankan, karena layanan ini dianggap paling aman dan dapat diandalkan kapan pun dan di mana pun, bahkan di wilayah-wilayah dengan sinyal komunikasi paling minim sekalipun,” ungkap Harris.

Dalam menyediakan layanan SMS banking, Telkomsel telah menggandeng lebih dari 60 mitra bank atau lebih dari separuh bank yang beroperasi di Indonesia, menjadikan layanan ini solusi efektif untuk memfasilitasi pelanggan yang semakin mengadopsi gaya hidup yang serba praktis. 

Mekanisme  Program Racing Weekend Banking
Program Racing Weekend Banking dapat diikuti oleh seluruh pelanggan KartuHalosimPATIKartu As, dan LOOP yang sudah melakukan aktivasi layanan pada kantor bank masing-masing.  Selanjutnya, nomor pelanggan akan mendapat satu poin setiap satu kali transaksi  perbankan melalui SMS atau menu akses *141#, yang dilakukan pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, selama periode Februari – Desember 2018. Pelanggan dapat melihat poin transaksi yang terkumpul melalui menu akses *368*7#.

Pelanggan berkesempatan meraih hadiah utama berupa paket wisata ke Eropa untuk 10 pemenang. Selain itu, tersedia juga hadiah berupa sepeda motor Honda Beat untuk 2 pemenang setiap bulannya. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah poin transaksi SMS Banking pelanggan. Info lebih lanjut dan daftar pemenang program Racing Weekend Banking Telkomsel dapat dilihat di https://www.telkomsel.com/promo/weekend-banking.

Dalam menyampaikan segala informasi  pemenang program yang diadakan Telkomsel, termasuk informasi layanan, produk, ataupun promosi berhadiah, Telkomsel selalu menggunakan mekanisme pemberitahuan resmi, seperti melalui surat, pemberitaan di media massa nasional, informasi di GraPARI terdekat atau di Call Center Telkomsel, dan situs resmi perusahaan www.telkomsel.com.


Kamis, 05 April 2018

Kerajinan Perak : Gosok cincin nikah (bagian 2)





Pada kesempatan yang sama, di tengah mengamati proses kerja para pengrajin perak di HS Silver, Menperin ditawari pengrajin untuk mencuci cincin nikahnya dengan menggunakan sabun tradisional dari buah lerak. Fungsi buah lerak ini bisa membersihkan kembali perhiasan perak yang sudah kusam, dan juga biasa dipakai untuk mencuci batik.

Begitu direndam beberapa saat dan digosok, tak berselang lama hanya dalam hitungan detik, pengrajin perak itu kembali menyerahkan cincin ke Airlangga. Hasilnya, cincin tersebut berkilau kembali. “Karena kalau rusak nanti dimarahi bojo (istri),” kelakar Airlangga sambil menunjukkan cincinnya yang terlihat seperti memantulkan cahaya.

Kekhawatiran Airlangga jika cincinnya tersebut akan rusak jika setelah digosok tidak terbukti. Ia justru dibuat heran karena cincin pernikahannya berubah lebih bersih seperti saat masih baru dan merasa puas dengan polesan pengrajin perak tersebut. “Wah, beneran jadi berkilau, kayak baru," ungkapnya.

Airlangga juga berkomentar ketika melihat pengrajin perak menyusun benang filigree ke dalam perhiasan. “Seperti ini yang tidak bisa dilakukan secara digital. Kalau dibuat digital, perempuan juga pasti tidak mau pakai,” ucapnya.

Didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti serta Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan, Menperin serius melihat proses patri yang menggunakan serbuk perak, pembuatan benang perak, pengelasan perak, hingga proses perebusan supaya warna perak kembali cerah. (tamat)

Rabu, 04 April 2018

Kerajinan perak : Daya Saing Industri Kerajinan perak Masih Andalkan Buatan Tangan (bagian 1)


Industri kerajinan perak di Indonesia mampu berdaya saing di pasar internasional karena memiliki berbagai keunggulan seperti desain dan kualitas produknya. Seiring perkembangan teknologi, sektor ini masih mengandalkan buatan tangan para pengrajinnya dalam proses produksi.

“Ini salah satu bukti talent kita yang tetap kompetitif. Di industrinya, sektor ini punya nilai tambah tinggi. Mulai dari bahan baku sampai barang jadi, nilai tambahnya bisa mencapai di atas 50 persen,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto kepada wartawan ketika mengunjungi sentra pengrajin perak di Kotegede, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Menperin menjelaskan, Kotagede merupakan salah satu klaster atau kelompok industri kerajinan perak yang sudah lama dikenal dan masih lestari. Untuk itu, Kementerian Perindustrian mendorong sektor yang mayoritas skala industri kecil dan menengah (IKM) ini ke arah klaster karena para pelaku usahanya akan mudah mendapatkan bahan baku dan memasarkan produknya.

“Bahkan, kompetensi para pengrajinnya akan semakin meningkat karena mereka berkumpul. Ini bisa terus menjaga keberlangsungan produktivitasnya. Konsepnya adalah one village one product, jadi perak menjadi kekuatan Kotagede. Di tempat lain juga ada, seperti yang berbasis produk kulit,” paparnya.

Airlangga menyampaikan, industri kerajinan sebagai salah satu sektor yang tengah diprioritaskan pengembangannya. Alasannya, karena mampu menghasilkan nilai tambah tinggi, berdaya saing global, berorientasi ekspor, menyerap banyak tenaga kerja, serta didukung dengan ketersediaan sumber bahan baku yang cukup.

Berdasarkan catatan Kemenperin, industri kerajinan di dalam negeri lebih dari 696 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,32 juta orang. Sementara itu, sampai dengan November tahun 2017, nilai ekspor produk kerajinan tahun 2017 berada di angka USD776 juta, naik 3,8 persen dibanding tahun 2016 sekitar USD747 juta.

Salah satu showroom kerajinan perak yang masih eksis di Kotagede adalah HS Silver yang telah berdiri sejak tahun 1953. Di showroom, HS Silver tidak hanya memajang produk saja, tetapi juga menyediakan ruang workshop. Para pengunjung bisa melihat secara langsung proses produksi kerajinan perak yang dibuat secara handmade oleh para pengrajin.

Direktur Pengembangan dan Bisnis HS Silver, Artin Wuriyani menuturkan, awalnya usaha kerajinan perak yang dirintis oleh sang pemilik Harto Suhardjo ini memiliki 10 karyawan. Saat ini, HS Silver telah menyerap tenaga kerja sebanyak 86 karyawan dengan menggandeng 200 pengrajin perak. Selain di Yogyakarta, HS Silver juga memiliki showroom di Bali.

“Kami juga mencari para pengrajin di luar Kotagede, seperti di Wonosari dengan memberikan pelatihan. Kami memberdayakan masyarakat di sana, khususnya para perempuan,” ujarnya. Dalam pengembangan bisnis, HS Silver terus meluncurkan inovasi desain produk dengan berbagai tema yang disesuaikan tren dan selera pasar. “Misalnya tema air, kami angkat seperti bentuk rumput laut dan ikan,” imbuhnya.

Artin pun menceritakan, sang pemilik menekuni bisnis kerajinan perak di Kotagede ini sebagai salah satu upayanya meneruskan warisan budaya Tanah Air. “Karena sejak zaman Mataram Kuno, daerah ini banyak para pengrajin perhiasan,” terangnya.

Produk-produk HS Silver telah mampu menembus pasar ekspor, antara lain ke negara-negara Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika Serikat. “Kita unggul karena handmade. Seperti di Eropa, mereka sangat senang dengan filigree, yaitu kerajinan perak yang bentuknya benang-benang disusun menjadi suatu model,” jelasnya. HS Silver juga menghasilkan kerajinan perak berbentuk solid seperti gelang. (bersambung)